Guru Besar Universitas Muhammadiyah Aceh sebagai Keynote Speaker dalam kegiatan International Conference

Fakultas Kesehatan Masyarakat Unversitas Teuku Umar (FKM UTU) menyelenggarakan kegiatan 1st International Conference of Public Health (ICPH) dengan tema “Think Globally Act Locally : The Role of Public Health and Medicine in Agro and Marine” pada hari Senin tanggal 18 November 2019, di Aula Utama Universitas Teuku Umar Meulaboh. International Conference of Public Health (ICPH) menghadirkan beberapa narasumber diantaranya Guru Besar Universitas Muhammadiyah Aceh, Indonesia dan juga Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Provinsi Aceh yaitu Prof. Asnawi Abdullah, SKM, MHSM, MSc.HPPF, DLSHTM, PhD; Guru Besar Khon Kaen University Thailand yaitu Prof. Wongsa Laohasiriwong, PhD; serta Guru Besar Universitas Zainal Abidin, Malaysia yaitu Prof. Dr. Sakinah Harith.

Dalam pemaparannya Guru Besar Universitas Muhammadiyah Aceh Prof. Asnawi Abdullah, SKM, MHSM, MSc. HPPF, DLSHTM, PhD mengangkat tema tentang “Escalating Burden of NCD in Indonesia. Driving Factors and the Policy Options?”. Pada situasi saat ini, perkembangan trend penyakit tidak menular (Non Communicable Disease/NCD) di dunia terus meningkat dari tahun ke tahun. Non Communicable Disease  adalah penyebab utama kematian secara global dimana NCD bertanggung jawab atas 71% seluruh kematian di dunia saat ini yang mencapai 41 juta penduduk. Setiap 2 detik penduduk dunia yang berusia antara 30 sampai 70 tahun meninggal karena disebabkan oleh Non Communicable Disease. Faktor risiko seperti latar belakang seseorang, gaya hidup dan lingkungan diketahui mampu meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit tidak menular. Termasuk di dalamnya adalah usia, jenis kelamin, genetika, paparan polusi udara, perilaku merokok, diet yang tidak sehat, aktivitas fisik, yang dapat menyebabkan hipertensi dan obesitas. Menurut hasil survey Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, provinsi Aceh berada diantara 10 kasus penyakit tidak menular tertinggi di Indonesia, diantarnya penyakit stroke, penyakit kardiovaskular, penyakit ginjal kronik, radang sendi, diabetes dan kanker. Di dalam penjelasannya Guru Besar Universitas Muhammadiyah tersebut lebih memfokuskan para 5 faktor risiko terjadinya NCD yaitu stunting, aktivitas fisik, konsumsi gula dan perilaku merokok. 

Stunting adalah permasalahan gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam rentang waktu yang cukup lama. Permasalahan stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru akan terlihat ketika anak sudah menginjak usia dua tahun. Stunting disebabkan oleh banyak faktor diantarnya : rendahnya kualitas makanan, keamanan makanan dan minuman, infeksi, ASI yang tidak memadai, makanan pendamping yang tidak mamadai, kurangnya kepedulian. Selain itu ada juga beberapa faktor tambahan yaitu tingkat pendidikan, tingkat ekonomi dan politik, sosial budaya, pelayanan kesehatan, air, sanitasi dan lingkungan, pertanian dan sistem dalam memproduksi makanan. Selanjutnya Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Provinsi Aceh tersebut menambahkan bahwa Federasi Obesitasi Dunia telah mengkonfirmasi bahwa obesitas bukan lagi merupakan permasalahan berat badan dan tinggi badan melainkan suatu penyakit. Salah satu penyebab terjadinya obesitas adalah karena kurangnya aktivitas fisik sehingga energi yang didapat dari asupan makanan sehari-hari akan disimpan sebagai lemak di dalam tubuh. Di Indonesia, prevalensi obesitas meningkat hingga mencapai 28% dimana di provinsi Aceh tred masyarakat yang menderita obesitas terus meningkat dari tahun  ke tahun. Dari tahun 2007 sampai tahun tahun 2013 terjadi peningkatan mencapai 35%.

 

Share this post

  • Info Terbaru
  • Agenda Terdekat